Sifat dan Fungsi umbi akar

Sifat dan Fungsi umbi akar


Umbi merupakan satu organ dari tumbuhan yang merupakan modifikasi dari organ lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu (umumnya karbohidrat). Organ yang dimodifikasi dapat berupa daun, batang, atau akar. Bentuk modifikasi ini biasanya adalah pembesaran ukuran dengan perubahan anatomi yang sangat jelas terlihat. Umbi biasanya terbentuk tepat di bawah permukaan tanah.


Akar adalah bagian pokok yang nomer tiga di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah berkembang menjadi sempurna.

Umbi akar adalah umbi yang merupakan penjelmaan akar, dan akrena akar tidak pernah mempunyai daun, umbi yang berasal dari dasarnya selalu masuk dalam umbi telanjang.
Umbi akar biasanya memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

  • Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalma tanah dengan arah tumbuhan ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya.
  • Ridak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainya.
  • Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.
  • Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umunya pertumbuhannya masih kalah jika dibanding dengan batang.
  • Bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah.

Akar bagi tumbuhan mempunya tugas untuk:

  • Memperkuat berdirinya tumbuhan
  • Untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut  di dalam air.
  • Mengangkut air dan zat-zat makanan tadi ke tempat-tempat pada tumbuh tumbuhan yanmemerlukan.
  • Kadang-kadang sebagai temapt untuk menimbun makanan.
  • Sebagai alat perkembang biayakan vegetatif.

Sistematika Tanaman Cokelat (Theobroma cacao)


Cokelat (theobroma cacao) telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1560, tetapi baru menjadi komoditi yang penting sejak tahun 1951. Pemerintah mulai menaruh perhatian dan mendukung industry cokelat pada tahun 1975 setelah PTP VI berhasil menaikkan produksi cokelat per ha, dengan menggunakan bibit Upper Amazon Interclonal Hybrid, yang merupakan hasil persilangan antarklon dan sabah.

Jenis cokelat yang ditanam saat ini sebagian besar adalah jenis criollo atau flavor cocoa. Produksinya sebagian besar diekspor, khususnya, kenegara-negara belanda, jerman barat, amerika serikat, dan singapura. Produksi cokelat Indonesia dihasilkan dari perkebunan besar Negara dan swasta dengan perkebunan rakyat.

Konsumen terbesar berturut-turut adalah eropa barat, eropa timur, amerika serikat, uni soviet. Konsumsi cokelat dinegara-negara berkembang juga menunjukkan kenaikan.


Morfologi tanaman cokelat

a.       Akar
Akar cokelat adalah akar tunggang (radix primaria). Pertumbuhan akar cokelat bias sampai 8 meter kearah samping dan 15 meter kearah bawah. (siregar, 2005)

b.      Batang
Cokelat dapat tumbuh sampai ketinggian 8 – 10 meter dari pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman cokelat punya kecenderungan tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon pelindung. (siregar, 2005)

c.       Bunga
Jumlah bunga cokelat mencapai 5000 – 12000 bunga per pohon per tahun, tetapi jumlah buah matang yang dihasilkannya hanya berkisar satu persen saja.bunga cokelat tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun kelopak sebanyak 5 helai, dan benang sari sejumlah 10 helai. Diameter bunga 1,5 cm. bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2 – 4 cm.  
(siregar, 2005)

d.      Buah
Buah cokelat berupa buah buni yang daging bijinya sangat lunak. Kulit buah mempunyai 10 alur dan tebalnya 1 – 2 cm. pada waktu muda, biji menempel pada bagian dalam kulit buah, tetapi bila buah telah matang maka biji akan terlepas dari kulit buah. Buah yang demikian aka berbunyi bila digoncang. (siregar, 2005)

e.       Daun
Daun cokelat terdiri atas tangkai daun dan helai daun. Panjang daun berkisar 5 – 34 cm dan lebarnya 9 – 12 cm. daun yang tumbuh pada ujung-ujung tunas biasanya berwrna merah dan disebut daun flush, permukaannya seperti sutera. (siregar, 2005)

f.       Biji
Didalam setiap buah terdapat 30 – 50 biji, bergantung pada jenis tanaman. Sedangkan berat kering atau satu biji cokelat yang ideal adalah 1 + 0.1 gram. Beberapa jenis tanaman cokelat menghasilkan buah yang banyak tetapi bijinya kecil, dan sebaliknya. Biji cokelat dilapisi oleh pulp yang berwarna putih dan rasanya manis.


Takson dan Klasifikasi Tumbuhan Paku


Takson dan Klasifikasi Tumbuhan Paku Dalam klasifikasi, makhluk hidup yang jumlahnya banyak dan beraneka ragam, dipilah dan dikelompokkan atau disusun tingkatan-tingkatannya dalam klasifikasi disebut takson. Sedangkan taksonomi adalah cabang biologi yang mempelajari pengelompokan atau klasifikasi makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup adalah suatu cara memilah-milah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan-golongan tertentu atau unit-unit tertentu. Berikut adalah skema klasifikasi dunia tumbuhan.

Klasifikasi organisme sampai saat ini belum ada keseragaman. Masing-masing ahli mempunyau alasan-alasan tersendiri dalam mengklasifikasikan organisme, sehingga setiap buku banyak perbedaan dalam menyusun klasifikasi.

Secara tradisional, Pteridophyta mencakup semua kormofita berspora, kecuali lumut hati, lumut tanduk, dan tumbuhan lumut. Selain paku sejati (kelas Filicinae), termasuk di dalamnya paku ekor kuda (Equisetinae), rane dan paku kawat (Lycopodinae), Psilotum (Psilotinae), serta Isoetes (Isoetinae). Sampai sekarang pun ilmu yang mempelajari kelompok-kelompok ini disebut pteridologi dan ahlinya disebut pteridolog.

Sampai saat ini para ahli mengelompokkan tumbuhan menjadi empat divisi yaitu Thallophyta (tumbuhan bertalus), Bryophyta (lumut), Pteridophyta (tumbuhan paku), dan Spermatophyta (tumbuhan berbiji). Disamping itu, ada beberapa ahli yang membedakan tumbuhan berdasarkan ada atau tidak adanya berkas pembuluh angkut. Berdasarkan klasifikasi tersebut, tumbuhan secara umum dibagi menjadi dua divisi, yaitu tumbuhan tidak berpembuluh (Thallophyta) dan tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Tumbuhan tidak berpembuluh tidak memiliki akar, batang, daun sejati. Sedangkan tumbuhan berpembuluh memiliki akar, batang, dan daun sejati. Tumbuhan tidak berpembuluh meliputi tumbuhan lumut, sedangkan tumbuhan berpembuluh meliputi tumbuhan paku dan tumbuhan biji.


Tumbuhan paku termasuk ke dalam kingdom Plantae (tumbuhan) dan memiliki beberapa kelas, yaitu Psilophytinae, Equisetinae, Lycopodinae, dan Felicinae

Kelas : Psilophytinae

Tidak ada daun dan akar, tetapi mempunyai rizom (batang mendatar), atau memiliki daun tetapi kecil-kecil. Golongan paku ini sudah hampir punah. Kebanyakan hidup di zaman purba dan ditemukan dalam bentuk fosil. Hanya ada satu jenis yang sekarang masih ada, tetapi hampir punah yaitu Psilotum. Psilotum banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis. Ordo : Psilotales

Famili : Psilotaceae

Genus : Psilotum

Spesies : Psilotum nudum (paku purba)



Kelas: Equisetinae

Paku yang merupakan peralihan antara yang homospora dengan heterospora equisetum debile. Kelas Equisetinae memiliki ciri batangnya beruas, berbuku, dan berongga, daun kecil-kecil seperti sisik, terletak melingkar pada buku-buku. Sporangiumnya melekat pada sporofil yang berbentuk perisai dan bertangkai. Sporofil tersusun menjadi strobilus yang letaknya diujung percabangan. Batangnya dapat bercabang. Cabang duduk mengitari batang utama. Batangnya berwarna hijau dan mengandung klorofil.

Ordo : Equisetales

Famili : Equisetaceae

Genus : Equisetum

Spesies : Equisetum debile (paku ekor kuda)



Kelas : Lycopodinae

Berupa daun kecil tersusun rapat dan tersusun spiral, sporangium muncul di ketiak daun dan berkumpul membentuk strobilus (kerucut), batangnya bercabang-cabang dan seperti kawat. Sporofit bentuk jantung, punya sporangium bentuk ginjal sebagian anggotanya termasuk paku heterospora. Akar bercabang menggarpu, terletak di sepanjang bagian bawah dari rimpang. Tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang-cabang menjulang ke atas. Cabang-cabang tertutup oleh daun. Memiliki berkas pengangkut yang masih sederhana

Ordo : Lycopodiales
Famili : Licopodiaceae
Genus : Lycopodium (paku kawat)
Spesies : Lycopodium clavantum, Lycopidium cernatum, dan Selaginella widenowii (Paku rane)


Kelas : Felicinae

Paku sejati dikenal sebagai tumbuhan paku yang sebenarnya dan dapat dilihat di sekitar kita, yang umumnya disebut pakis. Paku sejati memiliki banyak tulang daun dan mempunyai makrofil (daun besar), serta mesofil (daging daun).  Memiliki daun ukuran lebih besar. Sporangium tersusun dalam bentuk sorus di permukaan daun. Letak sorus di permukaan daun (atas, bawah), di ujung/di tepi. Paku sejati ada yang tumbuh di darat, air, atau rawa-rawa. Kelompok yang hidup di darat meliputi jenis paku dari yang terkecil sampai yang terbesar (berupa pohon), misalnya suplir, paku sarang burung dan paku tiang. Kelompok yang hidup di air misalnya paku air, paku sampan, dan semanggi.

-  Subkelas : Eusporangiatae

Sporangium mempunyai dinding tebal dan kuat yang terdiri atas beberapa lapis sel, spora sama besar. Kelas ini meliputi tumbuhan paku menurut pengertian kita sehari-hari, yang telah mempunyai makrofil dengan tulang-tulang daun dan mesofil di antaranya.

Ordo : Marattiales

Famili : Marattiaceae

Genus : Christensenia

Spesies : Christensenia Aesculifolia

Ordo Ophioglossales

Genus : Ophioglossum

Spesies : Ophioglossum reticulum



- Subkelas : Leptosporangiatae

Famili : Schizaeaceae

Spesies : Lygodium circinnatum

Famili : Gleicheniaceae

Spesies : Gleicenia linearis (paku resam)

Famili : Hymenophyaceae

Spesies : Hymenophillum australe

Famili : Cyatheaceae

Spesies : Alsophlia glauca (paku tiang)

Famili : Davalliceae

Spesies : Davallia trichomanoides

Famili : Aspidiaceae

Spesies : Aspidium filix-mas

Famili : Aspleniaceae




Spesies : Asplenium nidus (paku sarang burung)

Famili : Pteridaceae

Spesies : Adiantum cuneatum (suplir)

Famili : Polypodiaceae

Spesies : Drymoglossum heterophyllum (paku picis)

Famili : Arcrostichaceae

Spesies : Acrostichum aureum (paku laut), Platycerium bifurcatum (paku tanduk rusa)


-         Subkelas : Hydropterides

Famili : Salviniaceae

Spesies : Salvinia natans (paku sampan)

Famili : Marsileaceae

Spesies : Marsilea crenata (semanggi)



Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Tumbuhan paku (Ptridophyta) diduga merupakan tumbuhan berkormus tertua yang menghuni daratan bumi. Fosil tumbuhan paku dijumpai pada batu-batuan zaman Karbon, diperkirakan berasal dari 345 juta tahun yang lalu. Ada yang hidup sebagai saprofit dan ada pula sebagi epifit. Paku menyukai tempat lembab (higrofit), tumbuhnya mulai dari pantai (paku laut) sampai sekitar kawah-kawah (paku kawah).
Tumbuhan berkormus adalah tumbuhan yang memiliki batang, akar dan daun yang sebenarnya. Artinya, batang, akar dan daunnya sudah memiliki pembuluh angkut xylem dan floem.

Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab., yang juga dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku karena merajai hutan-hutan di bumi. Tumbuhan paku tidak menghasilkan biji, tetapi menghasilkan spora. Spora dihasilkan oleh daun, biasanya pada permukaan bawah daun. Daun yang masih muda menggulung. Mengapa disebut tumbuhan paku disebut juga tumbuhan berkormus? Hal ini dikarenakan tumbuhan paku memiliki akar, batang dan daun. Tumbuhan paku juga termasuk kedalam kelompok Tracheophyta yang memiliki jaringan pengangkut khusus yang berbentuk pembuluh (pipa). Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon. Tumbuhan paku yang ada di bumi ini mempunyai masa kejayaan dalam zaman Paileozoikum, terutama dalam zaman karbon atau disebut zaman paku. Sisa-sisanya sekarang dapat digali sebagai batubara.

Itulah dari pembahasan singkat mengenai Takson dan Klasifikasi Tumbuhan Paku

Menghasilakn Biodiesel dari Tanaman Jarak Pagar

Jarak pagar (Jatropha curcas L, Euphorbiaceae) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh kerabatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas. Jarak pagar dipandang menarik sebagai sumber biodiesel karena kandungan minyaknya yang tinggi, tidak berkompetisi untuk pemanfaatan lain (misalnya jika dibandingkan dengan kelapa sawit atau tebu), dan memiliki karakteristik agronomi yang sangat menarik.




Kandungan minyak bijinya dapat mencapai 63%, melebihi kandungan minyak biji kedelai (18%), linseed (33%), rapa (45%), bunga matahari (40%) atau inti sawit (45%). 


Kandungan Asam Lemak Pada Minyak Jarak Pagar
No.
Jenis Asam Lemak
Komposisi (%)
1.
Asam Miristat
0-0,1
2.
Asam Palmitat
14,1-15,3
3.
Asam Stearat
3,7-9,8
4.
Asam Arachidic
0-0,3
5.
Asam Behidic
0-0,2
6.
Asam Palmitoleat
0-1,3
7.
Asam Oleat
34,3-45,8
8.
Asam Linoleat
29,0-44,2


Sebagai biodiesel, minyak biji jarak pagar perlu diproses dengan metilasi terlebih dahulu, sebagaimana minyak nabati lain.



Alat Yang Diperlukan Untuk Menghasilkan Minyak Tumbuhan Jarak Pagar

Alat yang diperlukan untuk mengolah biji tumbuhan jarak pagar yaitu dibagi menjadi 2 yaitu, berdasarkan cara yang pertama dan cara yang kedua. Alat yang digunakan untuk mengolah biji tumbuhan jarak pagar berdasarkan cara yang pertama adalah alat penggiling dan alat pemecah biji yang berfungsi sebagai pemisah antara daging dan kulit biji jarak pagar. Selain itu juga alat yang digunakan untuk mengolah biji tumbuhan jarak pagar berdasarkan cara yang kedua adalah menggunakan mesin blender dan alat tempa minyak yang berguna untuk pemerasan hingga menghasilkan minyak yang berasal dari biji tumbuhan jarak.



Cara 1: menggunakan alat penggiling dan alat pemecah biji

Cara 2: menggunakan mesin blender dan alat tempa minyak


Cara Membuat Minyak Tumbuhan Jarak Pagar dan Pembuatan Biodiesel

Tumbuhan jarak merupakan tanaman penghasil minyak yang sudah digunakan masyarakat sejak zaman dulu, kemudian tanaman ini dibudidayakan secara besar-besaran ketika zaman penjajahan Jepang.

Dari 10 kilogram buah bisa dihasilkan 3,5 liter minyak jarak yang sama kualitasnya dengan solar. Bedanya tipis sekali, yakni minyak jarak memiliki lebih banyak oksigen dan nilai kalorinya lebih rendah dari solar. Keduanya membuat proses pembakaran pada minyak jarak lebih sempurna dan bersih.

Berikut adalah cara - cara untuk membuat minyak tumbuhan jarak pagar:

1. Cara 1: Biji direndam sekitar 5 menit di dalam air mendidih, kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Biji jarak dijemur selama dua hari, setelah itu dipecahkan untuk memisahkan daging dan kulit biji jarak. Daging biji jarak digiling dan diperas. Tiga kilogram biji jarak menghasilkan satu liter minyak jarak (Jatropha curcas oil).

2. Cara 2: Cukup dengan mengukus 50 kilogram buah jarak selama satu jam. Lalu daging dihancurkan dengan mesin blender. Setelah itu, daging buah dan biji yang sudah dihancurkan dimasukkan ke dalam mesin tempa minyak. Dengan penekanan dongkrak hidrolik, ampas diperas hingga menghasilkan minyak (Jatropha curcas oil). Proses pengepresan biasanya meninggalkan ampas yang masih mengandung 7 – 10 % minyak. Rendemen(ampas) yang berbentuk padatan setelah ekstraksi minyak dari biji dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.

Jatropha curcas oil merupakan minyak kasar yang belum dapat dimanfaatkan sebagai biodisel karena Jatropha curcas oil harus melewati 2 tahap lagi untuk menjadi biodiesel/alternatif BBM. Jatropha curcas oil harus melewati tahap:


Reaksi Esterifikasi

Jatropha curcas oil mempunyai komponen utama berupa trigliserida dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas harus dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu reaksi pembuatan biodiesel (reaksi transesterifikasi). Penghilangan asam lemak bebas ini dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi. Secara umum reaksi esterifikasi adalah sebagai berikut. Pada reaksi ini asam lemak bebas direaksikan dengan metanol menjadi biodiesel sehingga tidak mengurangi perolehan biodiesel. Tahap ini menghasilkan Jatropha curcas oil yang sudah tidak mengandung asam lemak bebas, sehingga dapat dikonversi menjadi biodiesel melalui reaksi transesterifikasi.

Reaksi Transesterifikasi

Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi utama dalam pembuatan biodiesel. Secara umum reaksi transesterifikasi adalah sebagai berikut. Pada reaksi ini, trigliserida (minyak) bereaksi dengan metanol dalam katalis basa untuk menghasilkan biodiesel dan gliserol (gliserin). Sampai tahap ini, pembuatan biodiesel telah selesai dan dapat digunakan sebagai bahan bakar yang mengurangi pemakaian solar.



Manfaat Minyak Tumbuhan Jarak Pagar

Setelah minyak tumbuhan jarak pagar dihasilkan yang berasal dari biji tumbuhan jarak pagar kemudian dilanjutkan oleh proses reaksi esterifikasi hingga proses reaksi transesterifikasi maka akan dihasilkan produk sampingan dari proses transesterifikasi (metilasi) yang dapat diperdagangkan sebagai bahan baku industri yang memanfaatkan asam lemak, seperti kertas berkualitas tinggi (high quality paper), pil energi, sabun, kosmetik, obat batuk, dan agen pelembab pada tembakau.

Untuk mengurangi angka ketergantungan masyarakat terhadap sumber energi yang berasal dari sumber daya alam tidak dapat diperbarui, maka alangkah baiknya bila pemerintah mendukung serta memproduksi sumber energi biodiesel yang berasal dari minyak tumbuhan jarak pagar secara maksimal sehingga dapat berguna bagi masyarakat luas.



Cara Paling Mudah Membuat Bioetanol Dari Tebu atau Molases

Bioetanol merupakan etanol yang dihasilkan dari bahan baku tumbuhan melalui proses fermentasi. Pembuatan etanol hasil fermentasi telah dilakukan sejak zaman dahulu yang dapat ditemukan pada minuman beralkohol seperti sake, arak, anggur, wine, dan minuman memabukan lainnya. Selain sebagai minuman memabukan, bioetanol juga digunakan sebagai campuran pada bahan bakar kendaraan.

Saat ini, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar menjadi sangat penting. Semakin sedikitnya sumber energi fosil yang ada dibumi dan semakin tingginya pencemaran lingkungan menjadi faktor utama dibutuhkannya energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan bioetanol menjadi bahan bakar kendaraan dapat menjadi sebuah alternatif yang aman, karena sumbernya berasal dari tumbuhan dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan.



Meskipun memiliki berbagai keuntungan, produksi bioetanol juga dapat menimbulkan masalah. Bahan baku pembuatan bioetanol seperti tebu, jagung, dan singkong merupakan tanaman pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Jika lahan tanaman pangan tersebut dialihkan menjadi lahan produksi bioetanol, maka produksi pangan akan menurun sehingga harganya menjadi naik.

Cara paling mudah membuat bioetanol adalah dengan bahan yang banyak mengandung gula, contohnya adalah tetes tebu atau molases. Tetes tebu merupakan produk samping dari pabrik tebu yang memiliki kadar gula sangat tinggi (>50%). Pembuatan bioetanol dari tetes tebu hanya melewati dua tahap utama saja.

Bahan-bahan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan bioetanol dari tetes/molasses antara lain adalah:
1. tetes tebu/molasses (kadar gula 50%)
2. urea
3. NPK
4. Fermipan (ragi roti)
5. Air

Langkah-langkah pembuatan bioetanol

1. Pengenceran Tetes Tebu

Kadar gula dalam tetes tebu terlalu tinggi untuk proses fermentasi, oleh karena itu perlu diencerkan terlebih dahulu. Kadar gula yang diinginkan kurang lebih adalah 14 %. Misal: larutkan 28 kg (atau 22.5 liter) molasses dengan 72 liter air. Aduk hingga tercampur merata. Volume airnya kurang lebih 94.5 L. Masukkan ke dalam fermentor.
Catatan: jika kandungan gula dalam tetes kurang dari 50%, penambahan air harus disesuaikan dengan kadar gula awalnya. Yang penting adalah kadar gula akhirnya kurang lebih 14%.

2. Penambahan Urea dan NPK

Urea dan NPK berfungsi sebagai nutrisi ragi. Kebutuhan hara tersebut adalah sebagai berikut:
a. Urea sebanyak 0.5% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
b. NPK sebanyak 0.1% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
Untuk contoh di atas, kebutuhan urea adalah sebanyak 70 gr dan NPK sebanyak 14 gr. Gerus urea dan NPK ini sampai halus, kemudian ditambahkan ke dalam larutan molasses dan diaduk.

3. Penambahan Ragi

Bahan aktif ragi roti adalah khamir Saccharomyces cereviseae yang dapat memfermentasi gula menjadi etanol. Ragi roti mudah dibeli di toko-toko bahan-bahan kue atau di supermarket. Sebaiknya tidak menggunakan ragi tape, karena ragi tape terdiri dari beberapa mikroba. Kebutuhan ragi roti adalah sebanyak 0.2% dari kadar gula dalam larutan molasses. Untuk contoh di atas kebutuhan raginya adalah sebanyak 28 gr.
Ragi roti diberi air hangat-hangat kuku secukupnya. Kemudian diaduk-aduk perlahan hingga tempak sedikit berbusa. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam fermentor. Fermentor ditutup rapat.

4. Fermentasi

Proses fermentasi akan berjalan beberapa jam setelah semua bahan dimasukkan ke dalam fermentor. Kalau anda menggunakan fermentor yang tembus padang (dari kaca misalnya), maka akan tampak gelembung-gelembung udara kecil-kecil dari dalam fermentor. Gelembung-gelembung udara ini adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Kadang-kadang terdengar suara gemuruh selama proses fermentasi ini. Selama proses fermentasi ini usahakan agar suhu tidak melebihi 36oC dan pH nya dipertahankan 4.5 – 5. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66 jam atau kira-kira 2.5 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung udara. Kadar etanol di dalam cairan fermentasi kurang lebih 7% – 10 %.

5. Distilasi dan Dehidrasi

Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam evaporator atau boiler. Panaskan evaporator dan suhunya dipertahankan antara 79 – 81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator. Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar etanolnya 95%.
Apabila kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar airnya kurang lebih 99.5%.

Bioetanol dari Gula Pasir

Jika anda kesulitan mendapatkan tetes/molasses, bioetanol dapat juga dibuat dengan menggunakan gula pasir. Prosedur umumnya sama seperti yang sudah dijelaskan di atas, hanya mengganti tetes dengan gula pasir. Yang perlu diperhatikan adalah kadar gulanya kurang lebih 14%. Jadi untuk setiap 1 kg gula pasir dapat ditambahkan kurang lebih 7.1 liter air.

Pencampuran Bioetanol dengan Bensin

Bioetanol yang bisa digunakan sebagai bahan bakar adalah bioetanol dengan kadar air 99.5%. Bioetanol ini bisa dicampurkan dengan bensin dengan perbandingan bietanol : bensin sebesar 1 : 9 atau 2 : 8.

Proses Pembuatan Biobriket Dari Tanaman Eceng Gondok

Eceng gondok memiliki karakter yang sangat unik untuk dikaji, hal ini merupakan suatu anugerah Tuhan dengan kata lain “Tidaklah aku ciptakan sesuatu yang tanpa berguna, kecuali hanya sedikit pengetahuan yang dimiliki oleh manusia”. Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. 

Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. 

Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida. Dari segi teknologi bahwa Eceng gondok memiliki kadar serat yang tinggi. Serat tersebut dapat dimanfaatkan secara komersiil baik secara tradisional sampai industri yang mutakhir.

Selain itu ada beberapa manfaat lain dari tanaman eceng gondok yaitu :

1. Bahan Baku Pulp dan Kertas
2. Bahan Baku Pupuk Organik
3. Sumber Pakan Ternak dan Ikan
4. Bahan Baku Kerajinan Tangan

Komposisi kimia tanaman Eceng Gondok

Dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Winarno (1993), menyebutkan bahwa hasil analisa kimia dari Eceng gondok dalam keadaan segar diperoleh bahan organik 36,59%, C organik 21,23%, N total 0,28%, P total 0,0011% dan K total 0,016%. Lebih lanjut Joejodibroto (1983) mengemukakan hasil analisa komponen kimia Eceng gondok yang tidak digiling ternyata mengandungkadar abu 12% dan setelah digiling menjadi 0,65%. Selanjutnya zat ekstraktif juga mengalami penurunan setelah digiling.

Biobriket

Biobriket atau briket biomassa atau disebut pula briket bioarang adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu. Menurut Basriyanta biomassa limbah industri, hutan, perkebunan, pertanian, dan sampah merupakan semua bahan baku biobriket, sebagai sumber energi alternatif terbesar. Potensi energi biomassa mencapai 885-juta gigajoule per tahun. Sampah organik salah satu sumber biomassa potensial dalam bentuk padat atau biobriket, gas (biogas), dan bentuk cair (bioliquid) sebagai bahan bakar organik ramah lingkungan.

Dalam jangka panjang, penggunaan biobriket yang ramah lingkungan menjadi pengganti bahan bakar minyak bumi. 

Beberapa tipe/ bentuk briket yang umum dikenal antara lain: bantal (oval), sarang tawon (honey comb), silinder (cylinder), telur (egg) dan lain-lain. Secara umum beberapa spesifikasi briket yang dibutuhkan oleh konsumen adalah sebagai berikut:

  1. Daya tahan briket
  2. Ukuran dan bentuk yang sesuai untuk penggunaannya
  3. Bersih, tidak berasap terutama untuk sektor rumah tangga.
  4. Bebas gas-gas berbahaya
  5. Sifat pembakaran yang sesuai dengan kebutuhan (kemudian dibakar, efisiensi energi, pembakaran yang stabil).

Teknologi pembriketan

Proses pembriketan adalah proses pengolahan yang mengalami perlakuan penggerusan, pencampuran bahan baku, pencetakan dan pengeringan pada kondisi tertentu, sehingga diperoleh briket yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan sifat kimia tertentu. Tujuan dari pembriketan adalah untuk meningkatkan kualitas bahan sebagai bahan bakar, mempermudah penanganan dan transportasi serta mengurangi kehilangan bahan dalam bentuk debu pada proses pengangkutan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pembriketan antara lain:

  1. Ukuran dan distribusi partikel.
  2. Kekerasan bahan.
  3. Sifat elastisitas dan plastisitas bahan. (Hasjim, 1991).

Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan briket antara lain:

1) Bahan baku
Briket dapat dibuat dari bermacam-macam bahan baku, seperti ampas tebu, sekam padi, serbuk gergaji, limbah ampas aren dll. Bahan utama yang harus terdapat di dalam bahan baku adalah selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa semakin bagus kualitas briketnya.

2) Bahan pengikat
Untuk merekatkan partikel-partikel zat dalam bahan baku pada proses pembuatan briket maka diperlukan zat pengikat sehingga dihasilkan briket yang kompak.

Secara umum proses pembuatan briket melalui tahap penggerusan, pencampuran, pencetakan, pengeringan, dan pengepakan.

  1. Penggerusan adalah menggerus bahan baku briket untuk mendapatkan ukuran butir tertentu.
  2. Pencampuran adalah mencampur bahan baku briket pada komposisi tertentu untuk mendapatkan adonan yang homogen.
  3. Pencetakan adalah mencetak adonan untuk mendapatkan bentuk tertentu yang sesuai dengan keinginan.
  4. Pengeringan adalah proses mengeringkan briket dengan menggunakan udara/ panas pada tenperatur tertentu untuk menurunkan kandungan air briket.
  5. Pengepakkan adalah pengemasan produk sesuai dengan spesifikasi kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan.

Beberapa parameter kualitas briket yang akan mempengaruhi pemanfaatannya antara lain: kandungan air, kandungan abu, kandungan zat terbang, dan nilai kalor.

Standar kualitas briket bioarang

Saat ini belum ada suatu standar kulaitas briket bioarang. Namun, persyaratan briket arang kayu menurut Sudrajat (1982) adalah:

Fixed Carbon > 60 %

Kadar abu < 8 %

Nilai kalor > 6000 cal/ gr

Kerapatan > 0,7 gr/ cm3

Manfaat biobriket

Dengan penggunaan briket arang sebagai bahan bakar maka kita dapat menghemat penggunaan kayu sebagai hasil utama dari hutan. Selain itu penggunaan briket arang dapat menghemat pengeluaran biaya untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan pembuatan briket arang maka akan meningkatkan pemanfaatan limbah hasil hutan sekaligus mengurangi pencemaran udara, karena selama ini limbah ampas batang aren yang ada hanya dibakar begitu saja. Manfaat lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat bila pembuatan briket arang ini dikelola dengan baik untuk selanjutnya briket arang dijual.

Cara pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok

Dari fakta dan data yang ada menunjukkan bahwa pemakaian bahan bakar fosil saat ini semakin meningkat, jumlah cadangan semakin menipis, harga yang tidak stabil (cenderung terus meningkat) dan isu-isu bahwa bahan bakar fosil menyebabkan pemanasan global serta penyebab terjadinya kerusakan lingkungan sudah mulai terbukti. Upaya untuk mengeliminasi kemungkinan terburuk dampak pemakaian bahan bakar fosil yaitu dengan pengembangan sumber energi terbarukan menjadi salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil.

Kekayaan alam Indonesia menjadi pertimbangan utama konversi energi minyak dan gas ke biomassa. Biomassa merupakan bahan alami yang biasanya dianggap sebagai sampah dan sering dimusnahkan dengan cara dibakar. Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan negara agraris terbesar yang akan mampu memasok sumber bahan baku biomassa, baik dari budidaya hayati maupun limbah pertanian, peternakan, dan perkebunan. Sumber energi biomassa mempunyai keuntungan antara lain :

  1. Sumber energi ini dapat dimanfaatkan secara terus-menerus karena sifatnya yang renewable resources.
  2. Sumber energi ini relatif tidak mengandung unsur sulfur, sehingga tidak menyebabkan polusi udara sebagaimana yang terjadi pada bahan bakar fosil.
  3. Pemanfaatan energi biomassa juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah pertanian, peternakan, dan perkebunan.

Oleh karena itu berbagai bahan organik saat ini dicoba untuk digunakan sebagai penghasil energi alternatif, misalnya sebagai bahan bakar (biobriket). Terlebih limbah yang dihasilkan oleh suatu aktivitas/ usaha produksi manusia akan lebih baik jika kita manfaatkan sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar. Berbagai limbah yang telah diteliti dapat menghasilkan energi atau sebagai bahan bakar alternatif antara lain: jerami, ampas tebu, sekam, limbah ampas batang aren, serbuk gergaji dll.

Adapun proses pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok adalah sebagai berikut:

1. Pertama, eceng gondok diiris-iris lalu digiling dengan mesin penggiling sederhana. Air perasannya dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Sementara ini eceng gondok dimanfaatkan untuk pupuk tanaman hias, bukan untuk sayuran, karena khawatir ada B3 Irisan eceng gondok dicampur dengan tanah liat, kapur, dan serbuk gergaji.

2. Setelah itu, campuran tadi dimasukkan ke dalam silinder pencetak yang berdiameter 15 sentimeter. Setelah dijemur tiga hari, briket eceng gondok pun bisa langsung digunakan. Dengan ditambah sedikit minyak tanah, briket akan segera membara dan siap untuk memasak.

Briket bisa juga dibakar sehingga menjadi bio arang. Dengan kandungan karbon yang lebih tinggi dan kadar air yang terkurangi, mutu bio arang ini lebih baik dibanding briketnya. Selain ramah lingkungan, briket dan bio arang ini lebih harum dan sedikit asapnya.

Sayangnya, waktu menyalanya relatif singkat sekitar 10 menit saja untuk 3-4 briket ataupun bio arang. Namun limbah hasil pembakaran briket atau bio arang masih bisa dimanfaatkan untuk abu gosok atau pembuatan telur asin, sehingga tak ada yang terbuang.

Menurut data nilai kalori yang terkandung pada berbagai bahan bakar bahwa biobriket memiliki nilai kalor cukup tinggai yaitu rata-rata 7.047,30 kal/gram. Nilai kalor biobriket tersebut menempati urutan ke-3 setelah minyak bumi mentah, bahan bakar minyak dan gas alam. Hal ini berarti memenuhi standar Jepang maupun standar Amerika. (Media Indonesia, 2010)

Akan tetapi kandungan kalor dari biomasa yang lebih rendah menyebabkan jumlah briket yang diperlukan untuk keperluan yang sama relatif lebih banyak dibanding batubara dan minyak tanah. Hal ini dapat diatasi dengan teknik karbonisasi guna meningkatkan nilai kalor dari briket biomassa. Selain itu dengan mengatur kandungan volatil yang cocok, briket biomassa relatif lebih mudah dinyalakan daripada briket batubara. Bau yang dikeluarkan dari pembakaran biobriket juga tidak terlalu menyengat sebagaimana bau yang dikeluarkan selama pembakaran biobriket. 

Sifat-sifat penting dari biobriket yang mempengaruhi kualitas bahan bakar adalah sifat fisik dan kimia. Sifat fisik biobriket dapat diperoleh dari proses pembuatan mulai dari pemilihan bahan hingga hasil berupa biobriket yang siap digunakan. Ukuran partikel arang juga memberikan pengaruh pada kualitas biobriket. Arang yang dihasilkan dari karbonisasi tanaman eceng gondok dinilai cukup bagus karena limbah ampas yang belum dikarbonisasi sudah memiliki ukuran partikel dengan diameter kecil sehingga mempercepat pada proses karbonisasi.

Dengan demikian adanya pembuatan biobriket dari tanaman eceng gondok dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam upaya penghematan energi dan penanggulangan pencemaran lingkungan.

Definisi Umbi Akar dan Berbagai Macam dan Jenisnya

Umbi akar dalah akar yang tumbuh membesar karena berisi cadangan makanan. Jika umbi akar ditanam bersama dengan pangkal batangnya, maka pada pangkal batang itu akan tumbuh tunas. Tunas tersebut merupakan tumbuhan baru. Contoh tumbuhan umbi akar antara lain dahlia, wortel, lobak, dan singkong.

Akar tinggal adalah batang yang seluruhnya berada dan tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah. Tunas tumbuhan baru tumbuh dari ketiak sisik setiap buku akar tinggal. Contoh tumbuhan akar tinggal antara lain kunyit, jahe, lengkuas, dan kencur.

Jenis dan Macam -Macam Umbi Bakar


  • Jahe (Zingiber Officinale Rose)

Kandungan pada jahe :
Minyak atsiri, pati, asam organik, asam malat, asam oksalat, gingerol, zingeron, resin, zat pati dan zat gula


  • Kencur (Kaempfera Galanga L.)

Kandungan pada kencur :
Minyak atsiri, carena, sineol, terpineol, kanferin, borneol, asam sinamat, m. Anisaladehis, a-metio, penta dekane, kandinene, etil eis p. Metok sinamat, etil trnas p. Metok sil sinamat, camphene, pati dan gom.


  • Temulawak (Curcuma Seanthor Hiza Roxb)

Kandungan pada temulawak :
Minyak atsiri, kanfer, glugosida, foluymetik, karbinol, kurkumin.


  • Bengkoang (Pachyrrhiaus Erosus)

Kandungan pada bengkoang :
Cairan 87%, protein 19 gram, karbohidrat 10 gram, kalor 48 gram, zat besi 18 gram, vitamin C 10 mg.


  • Wortel (Daugus Sarota L.)

Kandungan pada wortel :
Air, protein, karbohidat, lemak, serat, abu, beta karoten, nitrisi anti kanker, gula alamiah, kalsium, fosfor, besi, vitamin B dan C.


  • Bawang Merah (Allium Cepa)


Kandungan pada bawang merah:
Niacin, allium, allicin, enzim dan oxinale.


  • Bawang Putih (Allium Sativum L.)


Kandungan pada bawang putih :
Allicin, allin, enzim alinase, germanium, sativine, sinistrine, selenium, scordinin, sejumlah kecil thlally trisulfide, sugeregulator faetor, anti arthiric, factor, anti oksidan, allithiamine.


  • Bengle (Zingiber cassumunar Roxb)


  • GADUNG (Dioscorea hispida Dennust)


Kandungan pada gadung :
Alkaloid dioskorina, diosgenina, saponin, furanoid norditerpena, zat pati, dan tanin.


  • Lengkuas (Alpinia galangga)

Kandungan pada lengkuas :
Magnoliophyta, Liliopsida, Plantae, Zingiberales, Zingiberaceae, Alpinieae,  Alpinia, Alpinia galanga


Tag Search :
umbi akar dan umbi batang
umbi akar dan contohnya
umbi akar dan bumi batang
umbi dan akar
perbedaan umbi akar dan batang
pengertian umbi akar dan contohnya
contoh umbi akar dan batang
umbi akar contoh
umbi akar contohnya
umbi akar dan contohnya
ciri umbi akar
ciri2 umbi akar
pengertian umbi akar dan contohnya
contoh umbi akar adalah
cara umbi akar
umbi akar berwarna putih
umbi akar batang
akar umbi blogspot
umbi akar dan batang
perbedaan umbi akar batang
umbi akar pada singkong berfungsi untuk
umbi akar berbeda dengan umbi batang karena
umbi akar adalah
contoh umbi akar adalah
arti umbi akar
artikel umbi akar
sayuran jenis umbi atau akar

anatomi umbi akar